Sensasi Wine dan Menu Indonesia

LARASATI OETOMO on WINE & DINE, 28/08/19

img

Perusahaan wine asal Australia, Wolf Blass, memperkenalkan pengalaman minum wine yang berbeda dari biasanya.


Bertemakan Find Your Flavors, luncheon bersama Wolf Blass Chief Winemaker, Chris Hatcher, memperkenalkan cara baru untuk minum wine: memadukannya dengan menu asal Indonesia. Dengan rasa yang cenderung kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai budaya kuliner termasuk Tiongkok, India, dan Timur Tengah, menu Indonesia seperti ayam betutu hadir untuk memperkaya rasa wine keluaran Wolf Blass.

Chris Hatcher mengungkapkan kepada HighEnd dan rekan media lain bahwa memilih padanan wine yang sesuai dengan menu makanan adalah hal yang bersifat sangat pribadi, dan setiap orang dapat mengeksplorasi preferensi masing-masing. Makrifat ini tidak hanya berlaku pada menu fine dining, namun juga menu lain seperti menu andalan Indonesia yang cocok dengan lidah pecinta kuliner lokal.

Pada acara The Exclusive Traditional Food Flavors and Wine Pairing Luncheon ini, Chris mempersembahkan rangkaian menu Indonesia dari berbagai daerah, termasuk Bali, Sulawesi Selatan, hingga Yogyakarta. Berbagai varian wine dari Wolf Blass tampil mendampingi rangkaian menu, termasuk Gold Label Chardonnay, Gold Label Cabernet Sauvignon,  hingga varian yang lebih eksklusif, yaitu Grey Label Cabernet Shiraz.

Chris Hatcher, Wolf Blass Chief Winemaker

Selama bersantap siang, Chris Hatcher secara singkat menjelaskan perbedaan masing-masing label milik Wolf Blass, mulai dari Gold Label, Grey Label, hingga varian eksklusif seperti Black Label dan Platinum Label. Beliau juga membagi tip membedakan varian dan tipe wine serta memilih wine yang sesuai dengan selera.

Wolf Blass sendiri merupakan perusahaan wine yang didirikan di Australia Selatan pada tahun 1966 oleh Wolfgang Blass Franz Otto. Brand ini sudah meraih lebih dari 10,000 medali dan penghargaan baik secara nasional maupun internasional, serta telah dikenal sebagai produsen wine yang memiliki konsistensi a la wine Australia Selatan yang tidak berkompromi perihal mutu.

FOTO Zeno Group Indonesia