Misteri Musik Ricky Lionardi

ADELIA AYU on ART & CULTURE, 15/07/19

img

Komposer dan penata musik Ricky Lionardi merupakan sosok jenius di balik beberapa film kenamaan Indonesia. Tanpanya, beberapa film akan bisu dan membosankan.


Di dalam studio musik miliknya di Jakarta Selatan, Ricky Lionardi menggantung beberapa poster film kenamaan Indonesia seperti Danur dan Rectoverso. Ricky tak lain adalah sosok di balik tata music kedua film tersebut.

Sejak kecil, Ricky Lionardi sudah menyenangi musik rock dan bermimpi bahwa band-nya ketika itu akan sebesar Metallica meskipun kedua orang tuanya tidak menyetujui rencana tersebut. Lama berselang, ia diterima di Berklee College of Music, tempat yang juga melahirkan komposer dibalik film Pacific Rim dan Game of Thrones, Ramin Djawadi. Lulusan magna cum laude ini kemudian dikenal di industri film Indonesia sebagai penata musik hingga ia mendapatkan gelar Penata Musik Terpuji dari Festival Film Bandung di tahun 2006.

“Butuh kurang-lebih delapan jam untuk mengomposisi musik dan hal yang paling menyenangkan darinya adalah hasilnya. Terdapat pengalaman surealistis ketika musik dapat mengocok emosi penonton, baik sedih maupun senang. Inilah hal yang selalu ingin saya capai sebagai komposer.” Ujarnya. “Komposer dan musisi memiliki visi yang sama, yaitu untuk membuat karya yang indah.

Belakangan, namanya melejit setelah mereka ulang singel tenar dari Trie Utami, Jangan Bilang, yang dinyanyikan oleh Trio Lestari bersama Senandung Indonesia. Ketika ditanya mengenai bagaimana mengembalikan lagu yang begitu legendaris ke telinga masyarakat kini, ia menjawab, “Tentu tidak mudah untuk mengomposisi ulang sebuah karya agung tanpa mengubah esensinya. Hal ini membutuhkan insting dan pemahaman akan keberagaman orang yang akan mendengarnya. Pendengar muda dan tua pasti memiliki selera yang berbeda, dan kami ingin menyatukannya.”

Ricky Lionardi yakin bahwa dalam karirnya ini, terdapat beberapa hal yang tidak akan berubah. “Bahwa saya tidak akan meninggalkan musik, mendukung pendatang baru di industry saya, dan mengagumi Alexander Desplat dan Thomas Newman,” ia menutup perbincangan dengan HighEnd.

Foto RUDI SULISTYA