ASS Vol. 1 Guncang GBK

LARASATI OETOMO on ART & CULTURE, 02/09/19

img

Seberapa sering pagelaran musik rock atau jazz digelar di Indonesia? Seminggu sekali, boleh jadi, adalah angka yang cukup pesimistis. Bahkan, grup idola yang menggadang bendera K-pop berbondong-bondong untuk tampil, menari, atau sekadar menjabat tangan gemetar nan berkeringat para penggemarnya. Tidak perlu juga kita menyebut jumlah konser pop, indie, dan dangdut koplo yang kurang-lebih sama menjamurnya dengan kios kopi susu Senja (bukan nama sebenarnya) di kota-kota besar.


Kalau boleh jujur, hip-hop nyaris tidak memiliki panggung mereka sendiri, terutama selepas masa kejayaannya digerus pop Melayu mendayu-dayu di era 2000-an awal dan musik rock akrobatik dengan lirik puitis, dewasa ini. Kalaupun mereka kembali mejeng di skena musik Indonesia, mereka lebih sering berbagi panggung dengan artis dari genre lain. Sisanya? Betah di Spotify, berbaris rapi di balik deretan lagu Rich Brian yang, terlepas dari publisitas dan bakatnya yang “bukan-kaleng-kaleng”, saya ragu dapat menembus selera romantis yang sudah terlalu menempel selama dua dekade ke belakang. 

Melipir ke Korea Selatan, Negeri Ginseng ini tentu lebih umum dikenal dengan budaya popnya yang tidak pernah gagal menarik jutaan massa untuk tersihir kesempurnaan sang idola. Tentu Anda akan lebih mudah mengingat Oppa Gangnam Style ketika diminta mengingat sebuah lagu Korea Selatan dibanding tembang dari Kim Dong Ryul, misalnya, terlepas dari popularitasnya di mata publik Korea Selatan. Bahkan, percayalah, salah seorang rekan kerja saya tertegun ketika saya berkisah tentang Seoul Jazz Festival. “Lho, di Korea ada musik jazz?” kurang-lebih begitu ujarnya, selagi garuk-garuk kepala.  Bagaimana dengan hip-hop? Kami lebih tak yakin publik rela merusak citra musisi rupawan nan lentur yang mereka amini dengan pembawaan musisi hip-hop yang terkesan nyeleneh.

Stellar Events dan Helmi Sugara Promotions menolak terbawa arus yang menenggelamkan ini. HighEnd kira, Asian Sound Syndicate Vol. 1 yang baru digelar di Helipad Parking Ground, Gelora Bung Karno, pada 31 Agustus lalu adalah misi ambisius. Maksudnya—awalnya kami kira begitu.

Memboyong beberapa musisi hip-hop asal Korea Selatan seperti GRAY, DPR Live, dan Simon Dominic bukanlah misi yang semenjanjikan membawa sekelompok grup K-pop yang belia dan rupawan. Bukan artinya para rapper ini tidak rupawan; mereka hanya tidak seberapa dianugerahi dengan jutaan penggemar yang rela merogoh kocek papa dalam-dalam hanya untuk berjabat tangan selama dua detik dengan idolanya.

Meski demikian, pemilihan line-up yang berani ini bukan berarti nekat. Simon Dominic dan GRAY merupakan sosok rapper senior di bawah arahan Jay Park, founder dari label rekaman AOMG. Bobby, tambahan terakhir pada line-up, bak magnet yang menarik penggemar grup iKon. Dengan DNA musik RnB yang lebih groovy, Crush tak pernah gagal membuat penonton kasmaran dengannya (mengutip videografer kami, "Wah, gawat.") Sang pembuka, DPR Live, boleh jadi salah satu nama yang baru melejit baru-baru ini. Namun, ia hanya sebagian kecil dari musisi di era subkultur hip-hop Korea yang berhasil difitur kanal musik kultus COLORS di YouTube, mengikuti DEAN, Colde, dan Crush. Mereka semua bisa dikatakan sebagai pion-pion musik K-hip-hop yang melejit di bawah gempuran musik pop Korea yang hegemonik, bahkan di mata global.

Dari local syndicate, Stellar Events memasang Tuan Tigabelas dan Ramen Gvrl sebagai mitraliur andalan mereka. Hullera, musisi asal Malaysia, berbagi panggung dengan Ramen Gvrl. Ketiganya hadir sebagai penggiring massa setelah dibuka oleh Local Syndicates, yang berhasil menahan ribuan penonton di depan panggung dari godaan berteduh ke sudut-sudut sejuk.

Terlepas dari line-up, Asian Sound Syndicate Vol. 1 boleh saja berpongah-pongah soal kualitas sound dan tata kamera panggungnya kepada festival-festival tetangga yang sudah lebih dulu punya nama. Mereka menawarkan kualitas audio mixing yang lebih serius dari kebanyakan festival musik, terlepas kesalahan teknis minor yang sempat dialami DPR Live. Dengan ground yang nyaman untuk berdansa, kualitas audio yang apik, dan aksi panggung sempurna, Asian Sound Syndicate Vol. 1 memang diciptakan bagi mereka yang tahu bagaimana cara bersenang-senang dengan musik tanpa iming-iming pendistraksi lain yang menjamin penonton tampak keren dan hype.

Dengan denah sederhana—satu panggung utama, satu lapangan basket yang disulap menjadi graffiti and music ground oleh Masuk.TV di bagian belakang, dan mobil tua yang disulap menjadi titik foto andalan di bagian tengah, Anda tidak akan banyak terdistraksi oleh dekorasi heboh dan tenda sponsor yang sering kali mendominasi denah festival musik. Bahkan lebih baik; Anda tidak akan kesulitan berjalan di venue tanpa takut mengganggu sesi foto muda-mudi yang sudah dandan habis-habisan demi satu jepretan sempurna di laman media sosial mereka.

Asian Sound Syndicate Vol. 1, bagi kami, telah menjadi standar baru baik bagi skena hip-hop Asia maupun festival musik tetangga yang ingin menawarkan musik dan dansa tanpa distraksi. Entah apa yang akan mereka bawa berikutnya di Asian Sound Syndicate Vol. 2, tapi kami jelas optimis—dan optimisme kami sudah teruji di tahun pertama perhelatan ASS Vol. 1 ini.

FOTO Helmi Sugara Promotions